Tinggalkan komentar

Penulisan Ilmiah – Laporan Kejadian Luar Biasa

 Penulisan Ilmiah

LAPORAN KEJADIAN LUAR BIASA

 Di susun oleh :

Kurnia Ilahi

11.3.0.1.0110.

1C

 STIKES Payung Negeri

Pendahuluan

Dewasa  ini  masalah  keamanan pangan  sudah merupakan masalah global,  sehingga  mendapat perhatian  utama  dalam  penetapan kebijakan  kesehatan  masyarakat. Letusan  penyakit  akibat pangan (foodborne  disease)  dan  kejadian-kejadian pencemaran pangan terjadi tidak  hanya  di berbagai  negara berkembang dimana kondisi sanitasi dan  higiene  umumnya  buruk,  tetapi juga  di negara-negara  maju. Diperkirakan  satu  dari  tiga  orang penduduk  di  negara  maju mengalami keracunan  pangan setiap tahunnya. Bahkan di Eropa, keracunan pangan merupakan penyebab kematian kedua terbesar  setelah  Infeksi  Saluran  Pernafasan  Atas  atau  ISPA.  Hal  inilah  yang menarik perhatian dunia internasional.

World  Health  Organization  (WHO)  mendefinisikan  Kejadian  Luar  Biasa  (KLB)  keracunan  pangan atau  dikenal dengan  istilah “foodborne disease outbreak” sebagai suatu kejadian dimana  terdapat dua orang atau  lebih yang menderita sakit setelah mengkonsumsi pangan yang secara epidemiologi terbukti sebagai sumber penularan. Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia mempunyai makna sosial dan politik tersendiri karena peristiwanya sering sangat mendadak, mengena banyak orang dan dapat menimbulkan kematian.

Badan POM RI melalui Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan, secara rutin memonitor kejadian luar  biasa  (KLB)  keracunan pangan di  Indonesia  khususnya  keracunan  yang telah  diketahui waktu paparannya (point source) seperti pesta, perayaan, acara keluarga dan acara sosial lainnya. Selama tahun 2004, berdasarkan laporan   Balai Besar/Balai POM  di  seluruh Indonesia  telah  terjadi  kejadian  luar biasa  (KLB)  keracunan  pangan sebanyak 153 kejadian di 25 propinsi.

Kejadian dan lokasi keracunan pangan

Jumlah KLB keracunan pangan pada bulan Januari sampai Desember 2004, adalah 153  kejadian di 25 propinsi. Kasus keracunan pangan yang dilaporkan berjumlah 7347 kasus  termasuk  45 orang meninggal dunia.  Berikut data kasus keracunan pangan pada tahun 2004.

KLB  keracunan  pangan  terbanyak  di  Propinsi  Jawa  Barat  yaitu  sebesar  32  kejadian  (21%), Jawa Tengah  17 kejadian  (11%), DKI  Jakarta,  Jawa  Timur  dan Nusa  Tenggara Barat masing-masing  11 kejadian  (7,2%),  Bali  10 kejadian  (6,5%),  DI  Yogyakarta  9  kejadian  (5,9  %),  Kalimantan  Timur  7 kejadian  (4,6%), Sumatera  Utara  dan Sulawesi Selatan  masing-masing 5 kejadian (3,3 %), Sumatera Barat dan Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Timur masing-masing 4 kejadian  (2,6%), Sumatera Selatan, Lampung dan   Sulawesi Tenggara masing-masing 3 kejadian  (2%),  NAD,  Jambi,  Bengkulu, Sulawesi  Tengah  dan  Maluku  masing-masing  2  kejadian  (1,3%),  Riau, Bangka Belitung, Banten, dan Kalimantan Selatan masing-masing 1 kejadian (0,7%).

 Sumber dan jenis pangan penyebab keracunan

Ditinjau  dari  sumber  pangannya,  terlihat  bahwa  yang  menyebabkan  keracunan  pangan  adalah makanan  yang berasal dari masakan rumah  tangga 72 kejadian keracunan (47,1%),  industri jasa boga sebanyak 34 kali kejadian keracunan  (22,2 %), makanan  olahan    23  kali  kejadian  keracunan (15,0 %), makanan  jajanan  22  kali  kejadian keracunan  (14,4 %)  dan  2  kali  kejadian  keracunan (1,3 %)  tidak  dilaporkan. Berdasarkan  data  tersebut  sumber pangan penyebab keracunan pangan terbesar yaitu masakan rumah tangga. Hal ini disimpulkan bahwa kesadaran masyarakat  terhadap kebersihan dan higiene pengolahan pangan  (makanan dan air) dalam  rumah  tangga masih cukup rendah.

Distribusi kasus keracunan berdasarkan waktu, tempat dan orang

Waktu <– Frekuensi  KLB  keracunan  pangan  tertinggi  tahun  2004  terjadi  pada  Agustus,  Oktober, dan Desember. Musim hujan di  Indonesia  terjadi pada bulan Desember  – Februari. Sedangkan musim kemarau pada periode  Juni  -  Agustus,  dan  enam  bulan  sisanya  (Maret, Mei,  dan September  – November) merupakan  periode peralihan.  Frekuensi  KLB  tertinggi  umumnya  terjadi pada  musim  kemarau  dan  periode  peralihan,  seperti  pada  bulan Agustus (2004). Begitu juga pada periode peralihan, bulan Oktober (2004).  Salah satu dampak dari musim kemarau  dan periode peralihan  adalah  terbatasnya  ketersediaan  air  bersih  yang  sangat  penting  dalam  sanitasi, termasuk sanitasi pangan, peralatan, pekerja, dan  tempat pengolahan.   Pada bulan  ini  juga banyak terjadi pesta, perayaan dan acara sosial lainnya karena ”bulan baik” untuk hajatan dan pergantian tahun ajaran baru sekolah.

Tempat  <– Distribusi  menurut  tempat  kejadian  menunjukkan  bahwa  tempat  kejadian  bervariasi dari  berbagai tempat, yaitu : tempat  tinggal 61 tempat (39,9 %), kampus/sekolah 36 tempat (23,5%),  pesta keluarga 22 tempat (14,4%),  pabrik  12  tempat  (  7,8%),  kantor  5  tempat  (3,3%),  swalayan  dan  tempat  pelatihan  masing-masing  3 tempat  (2,0%),  perayaan  umum  dan pengajian  masing-masing  2  tempat  (  1,3%),    pasar,  posyandu,  hotel  dan masjid masing-masing 1 tempat (0,7%) sedangkan 3 kejadian (2,0%) tidak dilaporkan tempat kejadiannya.

Orang <– Distribusi  menurut  orang  menunjukkan  bahwa  salah  satu  KLB  keracunan  pangan tertinggi  tahun 2004  terjadi pada anak usia sekolah, khususnya murid sekolah dasar  (SD). Terjadinya keracunan di  lingkungan sekolah  antara  lain  disebabkan  oleh  ditemukannya  poduk pangan  di  lingkungan  sekolah  yang  tercemar  bahan berbahaya,  kantin  dan  pangan  siap  saji  di sekolah  yang  belum memenuhi  syarat  higienitas  dan  donasi  pangan yang bermasalah.

KLB keracunan pangan di lingkungan sekolah dan pangan penyebab

Jajan merupakan  kebiasaan makan anak  di  sekolah  yang  tidak  bisa  diabaikan  karena  jajanan dapat melengkapi atau menambah masukan  energi  dan  zat  gizi  lain  bagi  anak.  Kebiasaan  jajan dapat  berdampak  positif maupun negatif.  Bila sudah memenuhi syarat-syarat kesehatan, kebiasaan jajan dapat berdampak positif, diantaranya untuk melengkapi atau menambah kebutuhan gizi.  Dampak negatif dari kebiasaan  jajan diantaranya  jajanan yang dibeli belum terjamin keamanannya. Frekuensi KLB  keracunan  pangan  pada  anak  di  sekolah meningkat  pada  tahun 2004. KLB  tertinggi  terjadi  pada anak Sekolah Dasar (SD) yaitu 19 kejadian dengan jumlah korban sakit sebanyak 575 orang.

Pangan  penyebab  KLB  di  lingkungan sekolah  tertinggi  disebabkan  oleh  pangan olahan.  Pangan olahan  diperoleh  siswa melalui  donasi  dari  industri  pangan.   Oleh karena  itu, Kepala Badan POM RI  tanggal 15  September  2004  mengeluarkan  surat edaran  No.  KS.01.03.51.4099  mengenai Pedoman  Pemberian  Pangan  untuk Konsumsi Anak Sekolah.

Agen penyebab KLB keracunan pangan

Keracunan pangan dapat disebabkan oleh mikroba patogen dan cemaran kimiawi. Dari laporan hasil analisis Balai POM diduga penyebab keracunan disebabkan mikroba patogen 21 kejadian (13,7%), kimia 13 kejadian keracunan (8,5%).  Namun  ternyata  yang  tidak  terdeteksi/tidak  dapat  dianalisis masih  jauh  lebih  banyak,  yaitu  pada  119 kejadian keracunan (77,8%).

Masalah utama penanganan keracunan pangan

a.  Koordinasi dan kerjasama antar instansi yang menangani KLB keracunan pangan yang meliputi:

  •  Koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah daerah/dinas kesehatan setempat kurang,  terutama dengan dihapusnya lembaga Kanwil sebagai penanggung jawab Tim  Penanggulangan Keracunan Pangan di Propinsi.
  •   Prosedur pelaporan maupun penanganan keracunan pangan belum dipahami sepenuhnya  oleh petugas di-lapangan.

b.  Penanganan dan analisis sampel, diantaranya:

  • Sampel yang diduga sebagai penyebab keracunan sering terlambat atau tidak dapat  diperoleh, sehingga tidak dapat dilakukan analisis penyebab KLB.
  •   Seringkali Balai POM mendapat sampel dari pihak luar/kepolisian yang umumnya tidak  mengetahui bagaimana mengambil dan menangani sampel tersebut.
  •  Akses yang terbatas terhadap laboratorium rujukan dan kurang memadai dalam  identifikasi patogen/bahan berbahaya penyebab keracunan pangan.

c.  Masalah lain seperti:

  •   Masih rendahnya kejadian yang dilaporkan.
  • Lebih banyak diarahkan untuk menghitung jumlah kasus keracunan pangan saja.
  •  Tidak banyak manfaat yang dapat digunakan dalam program keamanan pangan .
  • KLB tidak dapat ditangani secara tuntas.

Upaya-upaya untuk Penanggulangan KLB Keracunan Pangan

Badan POM RI bersama  instansi  terkait, khususnya Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2&PL) Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan Nasional dan pemerintah daerah telah dan  akan melaksanakan  upaya-upaya  penanggulangan KLB keracunan  pangan  terutama  untuk  golongan  rentan yaitu anak sekolah.  Upaya-upaya tersebut tercakup dalam 3 strategi utama yaitu:

*  Peningkatan aktivitas surveilan keamanan pangan, khusus pangan jajanan anak sekolah.

*  Pemberdayaan sekolah dalam Pengawasan pangan.

*  Melakukan komunikasi risiko jajanan anak sekolah.

Untuk mendownload file microsoft office word nya, silahkan klik disini…

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: